Selamat Jalan, Kawan

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.” Demikian ungkapan yang spontan terucap ketika saya mendengar kabar bahwa Luthfi Bachmid telah berpulang ke rahmatullah. Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa bagi saya, dialah guru politik pertama sekaligus orang yang membimbing saya memasuki dunia aktivisme sejak beliau masih menjadi mahasiswa.

 

Kisah ini bermula ketika saya lulus SMA di Singaraja, Bali, dengan prestasi yang sangat membanggakan. Saya meraih nilai tertinggi, baik di jurusan IPA maupun di seluruh sekolah. Prestasi itu menumbuhkan rasa percaya diri yang sangat tinggi. Karena itulah, ketika memilih perguruan tinggi, saya hanya mendaftar ke Jurusan Teknik Elektro ITB di Bandung.

 

Pada saat itu, Luthfi—begitu ia biasa dipanggil di kampung—telah lebih dahulu kuliah di Jurusan Teknik Perminyakan ITB. Namanya menjadi kebanggaan masyarakat. Ia adalah sosok yang sering dijadikan teladan bagi adik-adik di kampung. Lebih dari itu, profesi insinyur selain dokter menjadi katalisator untuk meningkatkan status sosial keluarga, khususnya bagi saya yang lahir dari keluarga miskin dan kurang terpandang.

 

Namun kenyataan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ketika hasil seleksi diumumkan, nama saya tidak tercantum. Saya terpukul. Dengan perasaan hancur, saya kembali ke Singaraja. Berhari-hari saya lebih banyak menyendiri. Hiburan satu-satunya adalah berjalan ke pantai, memandang laut yang luas sambil mendengarkan debur ombak, mencoba berdamai dengan kenyataan yang begitu sulit saya terima.

 

Beberapa bulan kemudian bulan Ramadan tiba. Para pelajar dan mahasiswa yang menuntut ilmu di Pulau Jawa mulai pulang kampung untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga. Saya mendengar kabar bahwa Luthfi juga pulang.

 

Ayahnya berasal dari Manado, sedangkan ibunya berasal dari Maluku. Ayahnya bekerja di Departemen Agama hingga pensiun, sementara ibunya aktif mengajar agama melalui pengajian ibu-ibu di kampung. Karena latar belakang keluarganya itulah, mereka sangat dihormati oleh masyarakat.

 

Ketika saya berkunjung ke rumahnya, ia menyambut saya dengan hangat. Senyum dan tawanya yang khas segera menghilangkan kecanggungan. Rupanya ia telah mendengar bahwa saya adalah lulusan terbaik yang gagal masuk ITB.

 

Alih-alih menyayangkan kegagalan saya, ia justru memberi semangat. Ia menjelaskan bahwa persaingan masuk ITB memang luar biasa ketat. Banyak calon mahasiswa mengikuti bimbingan belajar secara intensif, bahkan ada yang sengaja pindah sekolah ke Bandung ketika naik kelas tiga SMA, agar memperoleh kualitas pembelajaran yang lebih baik sekaligus lebih mudah mengikuti berbagai bimbingan belajar yang berkembang di sekitar kampus.

 

Kemudian ia menawarkan sesuatu yang mengubah jalan hidup saya. Ia mengajak saya datang ke Bandung dan tinggal di rumah kosnya. Ia menyarankan saya mengikuti bimbingan belajar Saud-Santoso agar dapat mempersiapkan diri mengikuti seleksi ITB pada tahun berikutnya.

 

Di luar jadwal bimbingan belajar yang berlangsung tiga kali setiap minggu, saya sering diajak ke Jalan Sabang, tempat Kantor HMI Cabang Bandung berada. Di sana saya diperkenalkan kepada banyak mahasiswa, baik aktivis maupun teman-teman kuliahnya. Untuk pertama kalinya saya mengenal kehidupan organisasi mahasiswa, dunia diskusi, dan pergulatan pemikiran.

 

Selain itu, saya juga sering mengikuti pengajian di Masjid Salman ITB dan Masjid Istiqamah di dekat Gedung Sate. Kedua masjid itu pada masa tersebut menjadi pusat kegiatan intelektual dan keislaman yang sangat hidup.

 

Suatu ketika terjadi peristiwa penyerangan Kantor Polisi Cicendo yang kemudian dikaitkan dengan kelompok Komando Jihad (Jamaah Imran), yang beberapa waktu kemudian berujung pada pembajakan pesawat Garuda Indonesia DC-9 “Woyla”. Dalam situasi yang penuh ketegangan itu saya diajak berpindah-pindah dari satu rumah kos ke rumah kos lainnya selama beberapa minggu. Saat itu saya belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Yang saya dengar hanyalah bahwa kelompok Imran disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan Masjid Istiqamah.

 

Setelah akhirnya saya melanjutkan kuliah di ITS Surabaya, komunikasi saya dengan Luthfi perlahan terputus. Namun, pelajaran yang saya peroleh darinya tidak pernah hilang dari ingatan.

 

Karena itulah, ketika mendapat ajakan bergabung dengan HMI Komisariat Elektro ITS, saya langsung menerimanya. Dari sanalah perjalanan organisasi saya dimulai. Saya dipercaya menjadi Ketua Komisariat HMI Elektro ITS, kemudian Ketua Koordinator Komisariat ITS, dan selanjutnya Ketua HMI Cabang Surabaya.

 

Bahkan saya sempat diminta menunda kelulusan karena dipersiapkan menjadi Ketua Badan Koordinasi HMI Jawa Timur. Namun saya memilih menyelesaikan studi tepat waktu. Setelah itu saya lebih banyak berkiprah di Pemuda Muhammadiyah hingga dipercaya menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur. Amanah tersebut kemudian membawa saya hijrah ke Jakarta sebagai Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

 

Gelombang Reformasi membawa saya memasuki dunia politik nasional. Saya ikut terlibat langsung di pusat pusarannya, turun ke jalan, sampai peralihan kekuasaan. Keterlibatan saya berlanjut menjadi pengurus PAN, mengikuti pemilu, kemudian dipercaya menjadi anggota DPR RI selama dua periode.

 

Di sanalah saya mulai menyaksikan secara langsung bahwa praktik politik tidak selalu sejalan dengan idealisme yang selama ini saya yakini. Saya melihat begitu banyak kompromi yang bertabrakan dengan hati nurani. Kegelisahan itulah yang mendorong saya kembali ke kampus untuk mempelajari ilmu politik secara lebih mendalam. Saya ingin memahami mengapa demokrasi sering kali melahirkan kenyataan yang jauh dari cita-citanya. Perjalanan akademik itulah yang akhirnya mengantarkan saya meraih gelar doktor dalam bidang ilmu politik.

 

Sesudah itu saya memilih tidak kembali ke DPR. Menurut saya, politik Indonesia semakin pragmatis. Ekosistem politik kita mengalami banyak persoalan mendasar yang tidak mungkin diselesaikan hanya dengan pergantian elite. Korupsi berkembang secara sistemik dan meluas di berbagai institusi negara. Dunia usaha pun tidak sepenuhnya terbebas dari berbagai praktik yang mengabaikan etika dan kepentingan publik.

 

Ketika saya dilantik menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Spanyol dan UN Tourism, komunikasi saya dengan Luthfi kembali terjalin. Rupanya ia baru saja pensiun dari PT Elnusa. Selama bertahun-tahun bekerja di perusahaan tersebut, tampaknya ia tidak lagi mengikuti dinamika politik secara mendalam, selain melalui berbagai informasi yang beredar di media sosial.

 

Saya cukup terkejut karena cara pandangnya terhadap politik ternyata tidak banyak berubah. Ia sering mengirimkan berbagai tulisan maupun potongan video yang mendukung atau menyerang tokoh serta partai politik tertentu. Pada awalnya saya memilih tidak banyak menanggapi sebagai bentuk penghormatan kepada seorang senior yang pernah berjasa dalam hidup saya.

 

Namun lama-kelamaan perbedaan pandangan itu berubah menjadi perdebatan yang berulang melalui WhatsApp. Ketika diskusi tidak lagi menghasilkan saling pengertian, melainkan hanya saling mempertahankan keyakinan masing-masing, saya akhirnya memutuskan memblokir nomornya. Bukan karena hilangnya rasa hormat, melainkan untuk menghindari perdebatan yang menurut saya sudah tidak lagi membawa manfaat.

 

Mungkin beliau tidak mengetahui bahwa perjalanan politik saya telah membawa saya menyaksikan langsung berbagai proses pergantian kekuasaan nasional, mulai dari Presiden Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono.

 

Di sisi lain, cara berpikir saya juga dibentuk oleh banyak guru dan tokoh bangsa seperti M. Dawam Rahardjo, Ahmad Syafii Maarif, Amien Rais, Yahya Muhaimin, Nurcholish Madjid, dan masih banyak lagi. Perjalanan akademik saya pun telah memperluas cakrawala dari seorang insinyur menjadi pembelajar ilmu politik, filsafat, dan tasawuf.

 

Semua perjalanan itu membentuk saya menjadi pribadi yang memiliki pandangan sendiri. Saya menghormati semua guru yang pernah membimbing saya, tetapi pada akhirnya setiap orang harus menemukan jalan pikirannya sendiri melalui pengalaman hidup, bacaan, perenungan, dan pergulatan batin yang dijalani.

 

Namun, di atas semua perbedaan itu, satu hal tidak pernah berubah.

 

Saya tetap menghormati Luthfi Bachmid sebagai orang yang pertama kali membuka pintu bagi saya untuk mengenal dunia aktivisme dan politik. Tanpa ajakannya datang ke Bandung, tanpa bimbingannya memperkenalkan saya kepada HMI, Masjid Salman, dan lingkungan intelektual mahasiswa, mungkin perjalanan hidup saya akan mengambil arah yang berbeda.

 

Karena itu, saya memilih mengenang seluruh kebaikannya, bukan perbedaan-perbedaan yang pernah muncul di penghujung perjalanan kami.

 

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal baiknya, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

1 thought on “Selamat Jalan, Kawan”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *