Pahlawan Nasional

Sutan Takdir Alisjahbana, yang lebih dikenal dengan singkatan STA, selama ini lebih banyak dikenang sebagai seorang sastrawan. Nama beliau pertama kali saya dengar dari guru Bahasa Indonesia ketika masih duduk di bangku SMA. Saat itu kami diwajibkan mengenal karya-karyanya, seperti Tak Putus Dirundung Malang, Dian yang Tak Kunjung Padam, Layar Terkembang, dan Anak Perawan di Sarang Penyamun. Tentu juga karya-karya sastra lain dari sastrawan Indonesia.

 

Belakangan ketika semakin banyak membaca dan mempelajari perjalanan hidupnya, saya justru melihat STA bukan semata-mata sebagai sastrawan, melainkan sebagai seorang pemikir besar dan pejuang kemajuan bangsa. Ia meyakini bahwa kualitas manusia merupakan kunci utama kebangkitan Indonesia. Karena itu, ia mendorong bangsa ini untuk bersikap terbuka terhadap rasionalisme Barat, termasuk mengadopsi  ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Pada saat yang sama, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga jati diri dan kepribadian bangsa agar modernisasi tidak menghilangkan akar kebudayaan Indonesia.

 

Perjuangan STA tidak berhenti di ruang kelas atau lembaran buku. Selain mengajar dan menulis, ia juga aktif di dunia politik melalui Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang pada waktu itu dipimpin Sutan Sjahrir. PSI dikenal sebagai partai yang menekankan demokrasi, rasionalitas, pendidikan, serta pembangunan bangsa melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pada Pemilu 1955, STA terpilih menjadi salah seorang anggota Konstituante.

 

Dalam banyak persoalan kebangsaan, PSI dan Partai Masyumi sering memiliki pandangan yang sejalan, terutama mengenai demokrasi konstitusional, pentingnya pendidikan, serta pembangunan manusia. Perbedaan ideologis tentu tetap ada, tetapi kedua partai kerap berkoalisi dalam memperjuangkan berbagai agenda nasional .

 

Kedekatan itu juga tampak dalam dunia pendidikan. Tokoh-tokoh Masyumi berperan penting dalam mendirikan dan mengembangkan Universitas Islam Indonesia (UII), sedangkan STA bersama para intelektual yang dekat dengan lingkungan PSI mendirikan Universitas Nasional (UNAS). Menariknya, STA sendiri pernah mengajar cukup lama di UII, sementara UNAS juga diperkuat oleh para akademisi yang berasal dari lingkungan Masyumi. Hal ini menunjukkan kedekatan diantara kader dan simpatisan dua partai yang hidup menjelang dan di awal kemerdekaan.

 

Walaupun kemudian kedua partai mengalami nasib yang serupa yakni dibubarkan atau membubarkan diri, perjuangannya di luar dunia politik praktis terus berlanjut  sampai sekarang. Di dunia satra, Jika Masyumi memiliki tokoh besar seperti Buya Hamka, maka PSI memiliki STA, sementara itu di dunia keilmuwan dan intelektual PSI melahirkan tokoh-tokoh seperti: Soedjatmoko, yang kemudian menjadi Rektor United Nations University di Tokyo, dan Prof. Sumitro Djojohadikusumo, yang menjadi salah seorang ekonom paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

 

Di balik berdirinya UII sendiri terdapat nama-nama tokoh atau simpatisan Masyumi seperti Mohammad Hatta, Abdul Kahar Muzakkir, Mohammad Roem, Mohammad Natsir, K.H. Wahid Hasyim, K.H. Mas Mansur, Kasman Singodimedjo, dan Abikoesno Tjokrosoejoso. Dengan demikian dapat dikatakan bukanlah secara kebetulan apabila di lingkungan kampus inilah kemudian lahir Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tahun 1947 atas prakarsa Lafran Pane. Karena itu, tidak berlibahan jika ada yang menyebut bahwa HMI merupakan putra kandung Masyumi.

 

Lafran Pane sendiri berasal dari keluarga intelektual yang luar biasa. Ia adalah adik kandung Sanusi Pane dan Armijn Pane. Ketiganya merupakan putra Sutan Pangurabaan Pane, seorang guru, penulis, dan tokoh pergerakan dari Tapanuli Selatan. Marga Pane berasal dari tradisi Mandailing–Angkola di Sumatra Utara. Armijn Pane bersama STA dan Amir Hamzah mendirikan majalah Poedjangga Baroe pada tahun 1933, sebuah tonggak penting dalam perkembangan sastra Indonesia modern. Kolaborasi intelektual di antara mereka telah berlangsung jauh sebelum sekat-sekat kepartaian.

 

Saya sendiri masih sempat merasakan atmosfer kampus UNAS sebagai salah satu warisan STA. Kisahnya bermula ketika saya memutuskan untuk tidak lagi mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI setelah hampir sepuluh tahun berkantor di Senayan. Saya merasakan adanya jurang yang cukup lebar antara idealisme yang ada di kepala dengan kenyataan politik di lapangan. Jika mengurai persoalan yang kita hadapi saja sudah sulit, apalagi menemukan jawabannya. Karena itulah saya memutuskan kembali ke dunia akademik untuk menemukan jawabannya secara ilmiah.

 

Dengan bantuan seorang alumni HMI yang mengajar di Universitas Indonesia, saya mendaftar pada Program Doktor Ilmu Politik. Namun karena latar belakang pendidikan saya adalah Teknik Elektro—S1 di ITS dan S2 di ITB—saya diwajibkan mengikuti matrikulasi dengan mengambil sejumlah besar mata kuliah dasar. Saya kemudian berpikir, tujuan saya kembali ke kampus bukan sekadar mencari ijazah, melainkan mencari jawaban ilmiah atas berbagai persoalan kebangsaan.

 

Tidak lama kemudian, seorang alumni HMI lain yang mengajar di Universitas Nasional menawarkan alternatif. Menurutnya, sistem akademik di UNAS lebih memberi ruang bagi mahasiswa yang telah memiliki pengalaman profesional, selama proposal penelitian yang diajukan layak dan seluruh kewajiban akademik dipenuhi. Tawaran itu saya terima. Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan studi doktoral dengan baik. Disertasi saya mengenai transisi demokrasi kemudian diterbitkan Republika dalam bentuk buku berjudul Jalan Demokrasi: Pengalaman Indonesia, Turkiye, dan Mesir.

 

Bagi saya yang pernah merasakan suasana akademik ITS dan ITB, kehidupan kampus UNAS terasa jauh lebih sederhana. Para dosennya hidup bersahaja, tetapi penuh dedikasi dan idealisme. Mereka tampak lebih mengutamakan kualitas pendidikan dan integritas akademik daripada kemegahan kampus atau banyaknya jumlah mahasiswa. Dari sanalah saya menarik satu kesimpulan sederhana: STA tidak hanya berhasil mewariskan sebuah institusi pendidikan, melainkan juga membangun budaya akademik yang menjunjung idealisme, moralitas, dan semangat pengabdian.

 

Karena itu, ketika saya mendengar nama Sutan Takdir Alisjahbana diusulkan sebagai Pahlawan Nasional, spontan saya bergumam, “Banyak rekan seperjuangannya telah memperoleh penghargaan itu. STA bukan hanya layak, tetapi sudah saatnya bangsa ini memberikan penghormatan yang setimpal atas jasa-jasanya.”

 

Sebagai sastrawan, ia membentuk cara bangsa ini berpikir. Sebagai intelektual, ia memperkenalkan pentingnya rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Sebagai pendidik, ia meninggalkan lembaga yang terus melahirkan generasi baru. Dan sebagai pejuang kebangsaan, ia mewariskan gagasan bahwa kemajuan Indonesia hanya dapat dicapai melalui pembangunan manusia yang berkualitas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *