Bangga Menjadi Direktur Eksekutif CDCC

Ketika baru saja menyelesaikan program doktor di bidang ilmu politik, saya diundang oleh Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) untuk mempresentasikan disertasi saya mengenai transisi demokrasi di Indonesia dibandingkan dengan Turki dan Mesir.

 

Disertasi tersebut kemudian diterbitkan oleh Republika dalam bentuk buku berjudul Jalan Demokrasi: Pengalaman Indonesia, Turki, dan Mesir.

 

Pada kesempatan itu hadir tidak kurang dari lima puluh tokoh dan aktivis dari berbagai latar belakang agama, disiplin ilmu, dan profesi. Sebagian besar di antara mereka telah saya kenal melalui berbagai forum diskusi dan kegiatan masyarakat sipil.

 

Bagi saya, CDCC bukanlah lembaga yang asing. Sebelumnya saya telah beberapa kali diundang mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakannya, terutama ketika jabatan Direktur Eksekutif dipegang oleh Abdul Mu’ti, yang kini dipercaya sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

 

Saya merasa memiliki banyak kesamaan pandangan dengan CDCC. Lembaga ini memandang keberagaman bukan sebagai sumber konflik, melainkan sebagai kekayaan yang dapat menjadi landasan bagi dialog, kerja sama, dan saling pengertian antarpemeluk agama, antarbudaya, dan antarbangsa. Pandangan seperti inilah yang membuat saya merasa dekat dengan visi dan misinya.

 

Karena itu, ketika ditawari untuk bergabung dan dipercaya sebagai Direktur Eksekutif, saya menerimanya dengan penuh antusias. Yang paling menarik dari CDCC adalah keyakinannya bahwa setiap agama, budaya, bahkan kelompok politik memiliki nilai-nilai universal yang dapat menjadi titik temu untuk membangun kerja sama demi kemajuan peradaban. Tujuan akhirnya bukan hanya terciptanya dunia yang lebih damai dan tenteram, tetapi juga meningkatnya kesejahteraan bersama umat manusia.

 

Sejak saat itu, setiap kali menulis artikel di jurnal maupun media massa, saya selalu mencantumkan jabatan saya sebagai Direktur Eksekutif CDCC. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika CDCC dipercaya menjadi tuan rumah World Peace Forum (WPF) dan saya diberi amanah sebagai Ketua Panitia Pelaksana.

 

Forum tersebut diselenggarakan di Hotel Sultan Jakarta dan dihadiri lebih dari seratus tokoh dari berbagai negara. Acara dibuka oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia saat itu, Retno Marsudi. Seusai pembukaan, puluhan wartawan, termasuk media internasional, berkerumun untuk meminta komentar kepada beliau. Namun, beliau dengan ramah mempersilakan saya menjawab seluruh pertanyaan mereka, sementara beliau tetap berdiri di samping saya. Pengalaman itu menjadi salah satu momen yang tidak pernah saya lupakan.

 

Sebenarnya, memimpin CDCC bukanlah sesuatu yang benar-benar baru bagi saya. Sejak masih muda saya telah terlibat dalam berbagai kegiatan dialog lintas agama dan lintas budaya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika Buya Syafii Maarif memperoleh undangan dari Raja Abdullah II dari Yordania untuk menghadiri Sidang Umum ke-7 World Conference on Religion and Peace (WCRP) yang diselenggarakan di Amman pada November 1999.

 

Konferensi internasional tersebut mempertemukan para pemimpin agama dari berbagai belahan dunia untuk membahas kerja sama antarumat beragama demi perdamaian dunia.
Saat itu saya diminta mendampingi Buya Syafii Maarif yang hadir dalam kapasitasnya sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Kebetulan saya sendiri sedang mengemban amanah sebagai Ketua Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah.

 

Selain Buya Syafii, Indonesia juga diwakili oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang baru beberapa minggu dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia. Beliau didampingi Menteri Luar Negeri Alwi Shihab. Gus Dur memperoleh kehormatan menyampaikan pidato mewakili Indonesia. Tokoh Indonesia lainnya yang hadir adalah Nurcholish Madjid atau Cak Nur.

 

Seluruh delegasi Indonesia menginap di hotel tempat konferensi berlangsung. Sehari sebelum acara dimulai kami berkumpul untuk melakukan koordinasi. Namun, sebagaimana lazimnya jika Gus Dur hadir, rapat yang semula direncanakan serius berubah menjadi perbincangan santai yang dipenuhi gelak tawa. Gus Dur hampir tidak pernah terikat oleh protokoler. Cerita-cerita lucu yang beliau sampaikan mengalir tanpa henti sehingga semua yang hadir tidak berhenti tertawa.
Suasana hangat itu menghapus sekat-sekat di antara kami. Keakraban yang terbangun selama berada di Yordania bahkan terus berlanjut ketika kami kembali ke Indonesia.

 

Dari perjalanan tersebut lahir pula sebuah gagasan penting. Sepulang dari Amman, Gus Dur mengajak Buya Syafii mendirikan perwakilan WCRP di Indonesia. Buya tidak menolak, tetapi beliau tidak bersedia dicantumkan namanya. Ketika panitia terus meminta agar Muhammadiyah memiliki wakil dalam kepengurusan, Buya kemudian mengusulkan nama saya. Itulah sebabnya hingga hari ini saya tercatat sebagai salah seorang pendiri WCRP Indonesia.

 

Ada pula peristiwa lain di Aman yang sayang untuk dilewatkan, saat kami sedang berkumpul untuk koordinas, ajudan Presiden membisikkan sesuatu kepada Alwi Shihab yang kemudian menyampaikannya kepada Gus Dur. Kami semua diminta keluar dari ruangan. Yang tetap berada di dalam hanya Gus Dur, Alwi Shihab, dan Malik Aliyun, tiga serangkai alumni Mesir yang jika berbincang hampir selalu menggunakan bahasa Arab.

 

Kami menunggu di luar ruangan. Tidak lama kemudian terlihat Prabowo Subianto datang ditemani Maher Algadri, memasuki ruangan dengan tergesa-gesa.

 

Bagi para aktivis saat itu, wajah Prabowo tentu sangat dikenal. Beberapa teman saling berpandangan karena berbagai peristiwa menjelang dan sesudah Reformasi yang sering dikaitkan dengan namanya masih sangat segar dalam ingatan.

 

Pintu ruangan tidak tertutup rapat sehingga sebagian percakapan masih terdengar. Salah satu kalimat yang masih saya ingat adalah ketika Prabowo meminta izin kepada Presiden Gus Dur untuk kembali ke Indonesia. Dengan ringan dan spontan Gus Dur menjawab, “Kalau mau pulang, pulang saja.”

 

Tidak lama kemudian Prabowo dan Maher keluar ruangan dan langsung meninggalkan hotel. Sementara itu, Gus Dur, Alwi Shihab, dan Malik Aliyun kembali berbincang santai dalam bahasa Arab. Saya bersama beberapa teman kemudian bergabung dengan Cak Nur di lobi hotel sambil menikmati kopi.

 

Pengalaman panjang dalam berbagai kegiatan dialog lintas agama dan lintas budaya tersebut sangat memengaruhi cara pandang saya ketika kemudian dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Spanyol sekaligus Wakil Tetap Indonesia untuk UN Tourism yang berkedudukan di Madrid.

 

Kepercayaan ini merupakan anugerah yang senantiasa saya syukuri. Di sela-sela tugas diplomatik, saya memiliki kesempatan untuk membaca, merenung, dan menulis mengenai warisan besar peradaban Islam di Andalusia. Peradaban yang pernah menerangi Eropa melalui kemajuan ilmu pengetahuan, sains, teknologi, seni, dan budaya itu kemudian menjadi salah satu fondasi lahirnya Renaisans.

 

Semakin saya mempelajari Andalusia, semakin saya menemukan bahwa salah satu kekuatan terbesarnya bukan hanya pada kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada kemampuannya membangun masyarakat yang relatif terbuka dan mampu bekerja sama di tengah perbedaan agama maupun etnis. Pengalaman sejarah tersebut menjadi bekal yang sangat berharga dalam menjalankan tugas diplomasi di Spanyol, sebuah negara yang secara formal dan kultural berakar pada tradisi Katolik, meskipun masyarakatnya kini sangat plural dan semakin sekuler.

 

Suatu hari saya berkesempatan mengunjungi Fundación Tres Culturas del Mediterráneo di Sevilla, sebuah lembaga yang bergerak di bidang dialog antarbudaya. Menariknya, mereka lebih memilih menggunakan istilah intercultural dialogue daripada interfaith dialogue. Alasannya sederhana tetapi penting, yakni agar komunitas yang tidak berafiliasi dengan agama tertentu—termasuk kalangan sekuler maupun agnostik—tetap merasa menjadi bagian dari dialog.

 

Direktornya saat itu, María Concha de Santa Ana Fernández, secara khusus menceritakan bahwa lembaga yang dipimpinnya pernah bekerja sama dengan CDCC ketika dipimpin oleh Din Syamsuddin dalam menyelenggarakan sebuah seminar besar di Sevilla. Menurut beliau, kerja sama tersebut berhasil memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Spanyol sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia yang mengedepankan sikap moderat, toleran, dan terbuka.

 

Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir isu-isu mengenai moderasi, toleransi, dialog antaragama, dan perdamaian dunia tampaknya semakin kurang menarik perhatian, baik di tingkat nasional maupun internasional. Padahal, kegiatan-kegiatan seperti ini sesungguhnya dapat dikembangkan sebagai salah satu bentuk soft diplomacy yang sangat efektif untuk meredakan berbagai ketegangan global.

 

Indonesia memiliki modal yang sangat besar. Sebagai negara demokrasi dengan masyarakat yang majemuk dari sisi agama, suku, budaya, dan etnis, Indonesia telah menunjukkan bahwa keberagaman dapat dikelola menjadi kekuatan untuk hidup berdampingan secara damai. Modal sosial seperti ini merupakan keunggulan alami yang semestinya dikembangkan sebagai bagian penting dari instrumen diplomasi Indonesia di panggung dunia.

1 thought on “Bangga Menjadi Direktur Eksekutif CDCC”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *