Setiap Agustus, merah putih kembali berkibar di mana-mana. Upacara digelar, berbagai bentuk lomba diselenggarakan, dan lagu-lagu perjuangan kembali terdengar. Namun di balik seluruh perayaan itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan: mimpi besar apakah yang membuat para pendiri bangsa rela mengorbankan segalanya demi Indonesia?
Hidup di bawah pemerintahan bangsa asing, walau berganti-ganti ternyata telah meninggalkan bekas yang serupa dan mendalam sehingga membentuk ingatan kolektif para leluhur kita. Mereka menyaksikan kekayaan alam yang dijarah, hasil bumi diangkut keluar negeri, rakyat dipaksa bekerja melampaui batas kewajaran, serta diperlakukan sebagai manusia kelas dua atau bahkan kelas tiga di tanah kelahirannya sendiri.
Sejarah mengajarkan bahwa tidak ada perubahan besar yang lahir tanpa didahului oleh sebuah mimpi besar. Tidak ada masyarakat yang rela meninggalkan kenyamanan, menyerahkan harta, bahkan mempertaruhkan nyawa apabila mereka tidak yakin bahwa pengorbanan itu akan melahirkan kehidupan yang lebih baik. Kalau tidak bisa dinikmati olehnya secara langsung, maka mimpi itu diharapkan akan terwujud pada anak-cucunya di kemudian hari.
Pengalaman berbagai bangsa menunjukkan bahwa sebuah negara besar dan disegani lahir bukan hanya karena sumber daya alam atau kekuatan militer, juga kesuksesan tidak bisa dibangun hanya dalam satu generasi. Karena itu, keberhasilan memelihara mimpi kolektif selama puluhan bahkan ratusan tahun dan mewariskannya menjadi kunci.
Mimpi seperti itulah yang mendorong rakyat Prancis mengakhiri sistem monarki absolut dan membangun masyarakat yang menjunjung kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Mimpi yang serupa pula menggerakkan Jepang melakukan Restorasi Meiji. Mereka berani meninggalkan berbagai tradisi lama demi membangun negara modern yang mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa Barat.
Demikian pula Tiongkok. Ketika memulai reformasi ekonomi pada akhir 1970-an, negeri itu masih bergulat dengan kemiskinan dan keterbelakangan, jauh tertinggal dari banyak negara, termasuk Indonesia pada masa itu. Namun para pemimpinnya berhasil menanamkan keyakinan bahwa pengorbanan hari ini akan melahirkan kemakmuran pada masa depan. Ratusan juta rakyat menerima perubahan besar dalam sistem ekonomi, pendidikan, industri, dan teknologi karena percaya pada satu mimpi yang sama: menjadikan Tiongkok sebagai salah satu negara maju di dunia. Dalam waktu kurang dari setengah abad, mimpi itu perlahan berubah menjadi kenyataan.
Ketiga pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kemajuan sebuah bangsa selalu diawali oleh kemampuan membangun dan memelihara mimpi kolektif lintas generasi. Tentu Indonesia pun lahir dari mimpi yang tidak kalah agung. Kini usia kemerdekaan sudah mencapai 81 tahun, banyak kemajuan telah kita rasakan dan banyak warga telah menikmati kemajuan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang layak. Namun jutaan lainnya masih bergulat dengan kemiskinan, kualitas pendidikan yang rendah, dan kesempatan untuk maju yang terbatas.
Seandainya para pejuang kemerdekaan dapat menyaksikan Indonesia hari ini, mungkin mereka akan bertanya: mengapa setelah lebih dari delapan dekade merdeka masih begitu banyak rakyat yang belum menikmati buah kemerdekaan? Mengapa cita-cita menghadirkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat masih terasa jauh? Lebih menyedihkan lagi ketika politik yang dahulu menjadi alat perjuangan berubah menjadi ajang perebutan kekuasaan dan kekayaan. Pembangunan kehilangan arah jangka panjang, sementara perdebatan publik sering kali habis untuk saling menyerang, bukan membangun masa depan bangsa.
Bung Karno sejatinya telah mengingatkan bahwa perjuangan setelah kemerdekaan akan jauh lebih sulit daripada merebut kemerdekaan itu sendiri. Karena musuh terbesar setelah kemerdekaan tidak lain dari keserakahan, korupsi, kemalasan, dan kepentingan sempit yang tumbuh dari dalam diri kita sendiri atau dalam kelompok-kelompok kecil masyarakat.
Padahal pada saat yang sama, ancaman dari luar tidak kalah berat. Dunia memasuki era persaingan kecerdasan buatan, semikonduktor, energi baru, mineral kritis, dan perebutan rantai pasok global. Persaingan geopolitik dan geoekonomi semakin keras. Negara yang gagal membangun sumber daya manusianya akan semakin tertinggal, betapapun kayanya sumber daya alam yang dimiliki.
Penting untuk diingat bahwa kemerdekaan bukanlah garis akhir perjuangan, melainkan titik awal sebuah perjalanan panjang. Generasi 1945 telah mewariskan kemerdekaan; tugas generasi hari ini adalah mewujudkan kemajuan. Jika para pendiri bangsa dahulu mempertaruhkan nyawa demi menghadirkan Indonesia Merdeka secara fisik, maka generasi sekarang harus berani mempertaruhkan kenyamanan, waktu, pikiran, dan kerja keras untuk menghadirkan kemerdekaan secara substantif kepada seluruh rakyatnya.
Indonesia memerlukan mimpi baru yang mampu menyatukan seluruh energi bangsa. Mimpi yang mampu melahirkan imajinasi dan energi untuk menjadi bangsa yang mandiri dalam pangan dan energi, unggul dalam pendidikan, riset, industri, teknologi, pelayanan kesehatan, serta menguasai pertanian modern, dengan demikian, luasnya wilayah, tanahnya yang subur, kekayaan alamnya yang melimpah, serta besarnya penduduk, akan bermuara pada kemajuan negara dan kesejahteraan seluruh rakyatnya.
Apabila mimpi yang kini terasa mulai memudar berhasil ditanamkan kembali ke dalam kesadaran seluruh rakyat, pengorbanan baru akan lahir dengan sendirinya. Orang tua akan rela menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Kaum muda akan bangga menjadi ilmuwan, guru, insinyur, dokter, petani modern, maupun wirausahawan. Dunia usaha akan berani berinvestasi pada inovasi. Pemerintah pun akan lebih berani mengambil keputusan strategis demi kepentingan jangka panjang. Seluruh energi bangsa akan terkonsolidasi dan bergerak menuju tujuan yang sama.
Kemerdekaan sejatinya adalah mimpi yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia pernah memiliki mimpi besar, melainkan apakah kita masih memiliki keberanian untuk mewujudkannya. Sebab masa depan sebuah bangsa pada akhirnya tidak ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki, melainkan oleh besarnya mimpi yang berani diperjuangkan bersama.
