Lamine Yamal Bukan Anak Ajaib

Terus terang, saya bukan penggemar sepak bola, apalagi termasuk gibol, istilah populer untuk mereka yang benar-benar tergila-gila pada olahraga ini. Selama beberapa tahun tinggal di Madrid, saya hanya dua kali menyaksikan pertandingan secara langsung di Stadion Santiago Bernabéu. Pertama ketika Real Madrid menjamu AC Milan, dan kedua saat laga akbar El Clásico antara Real Madrid dan FC Barcelona. Di luar itu, saya lebih sering mengantar teman-teman yang berkunjung ke Madrid untuk sekadar membeli kaus atau berbagai cendera mata bertuliskan Real Madrid.

 

Ketika Piala Dunia digelar di Amerika Serikat, saya sesekali mengikuti pertandingan melalui siaran televisi bersama keluarga, terutama laga-laga yang menarik. Memasuki babak semifinal, saya mulai menandai kalender dan menyempatkan diri untuk mengikuti setiap pertandingan. Pada pertandingan antara Spanyol dan Prancis, kebetulan seorang sahabat datang dari Jakarta. Untuk memberikan pengalaman yang berkesan, saya mengajaknya makan malam bersama keluarga di restoran milik Real Madrid yang berada di kompleks Stadion Santiago Bernabéu. Kualitas masakan maupun pelayanannya tidak kalah dengan restoran Plataran, Senayan, tempat di mana saya sering menjamu tamu asing saat berkunjung ke Jakarta.

 

Sesampainya di sana, seluruh meja ternyata sudah penuh. Untungnya, kami sudah booking sebelumnya. Hampir semua pengunjung mengenakan atribut berwarna merah dan kuning, warna kebanggaan tim nasional Spanyol sekaligus warna bendera negaranya. Malam itu restoran berubah menjadi arena nonton bareng (nobar). Sebuah layar raksasa dipasang di bagian utama ruangan, sementara sejumlah televisi ditempatkan di berbagai sudut ruangan. Di luar restoran, ribuan orang berkumpul di aula yang jauh lebih luas. Suasana benar-benar luar biasa semarak. Ketika Spanyol akhirnya menang 2-0 atas Prancis, sorak-sorai menggema di seluruh kawasan. Mereka semua pulang dengan wajah ceria dan penuh tawa.

Sejak saat itu saya mulai menghitung mundur (countdown) menuju pertandingan final. Saya sempat mengusulkan agar KBRI mengadakan acara nobar, tetapi masing-masing orang ternyata sudah memiliki rencana nonton sendiri. Saya kemudian meminta sopir untuk mengantar kami ke Plaza de Cibeles atau Plaza de Colón, tempat paling menarik untuk nobar.  Namun, saya mendapat penjelasan bahwa hampir seluruh jalan menuju lokasi akan ditutup karena diperkirakan ratusan ribu orang akan memadati kawasan tersebut. Bahkan setelah pertandingan selesai, kendaraan diperkirakan mustahil untuk bergerak.

 

Akhirnya saya memutuskan untuk menonton pertandingan final di rumah bersama keluarga. Saya bahkan sempat meminta istri menyiapkan edamame alias kedelai rebus dan kacang rebus kesukaan saya untuk menemani. Rencana saya bubar ketika  istri meresponsnya dengan mengatakan akan nobar bersama putri kami dengan menggunakan taksi sambil berlalu, tanda tidak ada kompromi. Tentu saja saya khawatir karena pertandingan dimulai pukul 21.00 malam, bagaimana kalau pulang tidak ada taksi karena ratusan ribu orang akan bergerak pada saat bersamaan setelah bubar, pikir saya.

 

Saya lalu memanggil putri saya untuk  mengajaknya berunding. Putri saya hanya berbicara sedikit sambil menitikkan air mata sebagai ekspresi besarnya keinginannya. Akhirnya kami mencapai kompromi: mereka boleh berangkat, tetapi harus pulang saat jeda babak pertama dan melanjutkan menonton di rumah. Ketika Spanyol akhirnya keluar sebagai juara, seluruh kota seakan bergetar. Jalan-jalan macet total. Hampir di setiap sudut kota berlangsung pesta rakyat hingga dini hari. Langit Madrid dipenuhi kembang api, klakson kendaraan bersahut-sahutan, dan gemuruh lautan manusia bernyanyi tanpa henti. Keesokan harinya, euforia kemenangan berlanjut bahkan jauh lebih besar. Tim nasional Spanyol yang baru mendarat  diarak keliling kota dan disambut bak para pahlawan.

 

Setelah menyaksikan semua ini, baru saya memahami bahwa di Spanyol, sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia telah menjadi bagian dari identitas nasional sekaligus hiburan lintas generasi. Tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, bahkan anak-anak. Para pemain sepak bola pun menjelma menjadi selebriti yang popularitasnya melampaui bintang film ataupun penyanyi. Yang lebih menarik lagi, sebagian besar pemain yang memperkuat tim nasional Spanyol merupakan hasil pembinaan klub-klub lokal, terutama Real Madrid dan FC Barcelona.

 

Lalu, apa sebenarnya rahasia keberhasilan sepak bola Spanyol? Menurut saya, setidaknya ada tiga faktor utama.

 

Pertama, klub-klub besar di Spanyol pada umumnya benar-benar menjadi milik masyarakat. FC Barcelona yang melahirkan bintang muda bernama Lamine Yamal, misalnya, bukan dimiliki oleh seorang miliarder ataupun perusahaan, melainkan oleh sekitar 140.000–150.000 anggota (socios) yang dihimpun dalam bentuk semacam koperasi. Karena itulah mereka mengusung moto terkenal, Més que un club (Lebih dari sekadar sebuah klub). Demikian pula, Real Madrid dimiliki secara kolektif oleh sekitar 100.000 socios. Model kepemilikan seperti ini menumbuhkan rasa memiliki yang sangat tinggi di kalangan masyarakat.

 

Kedua, sepak bola Spanyol dikelola secara profesional. Mulai dari proses perekrutan pemain, pembinaan, kompetisi, hingga tata kelola klub dijalankan secara profesional, transparan, dan sportif. Selama ini saya tidak pernah mendengar adanya intervensi pejabat atau pengusaha, suap terhadap wasit atau pemain oleh para penjudi, atau praktik-praktik lain yang merusak dan tidak bermoral. Secara keseluruhan, dapat dikatakan ekosistem yang sehat inilah yang membuat bakat-bakat terbaik dapat berkembang secara maksimal.

 

Ketiga, sepak bola diposisikan sebagai industri hiburan yang memberikan nilai ekonomi yang sangat besar yang meningkatkan kesejahteraan para pemain, anggota koperasi pemilik klub, dan pengelola terkait bisnisnya. Stadion Santiago Bernabéu setiap hari dipenuhi wisatawan, baik yang datang dari dalam maupun dari berbagai negara. Mereka mengunjungi museum klub, mengikuti tur stadion, dan membeli cendera mata. Belum lagi pemasukan dari iklan dan sponsor. Hal serupa juga terjadi di stadion milik FC Barcelona. Dengan demikian, pendapatan tidak hanya berasal dari penjualan tiket saat pertandingan.

 

Dari ekosistem seperti itulah lahir seorang pemain muda yang dianggap sebagai anak ajaib bernama Lamine Yamal. Sejak kecil ia mendapatkan pembinaan dari sekolah sepak bola di Barcelona. Dunia mulai mengenalnya ketika ia tampil bersama tim nasional Spanyol pada Piala Eropa 2024. Saat menjalani pertandingan pertamanya melawan Kroasia, usianya baru 16 tahun, menjadikannya pemain termuda sepanjang sejarah yang tampil di putaran final Piala Eropa. Perjalanannya tidak berhenti di sana. Lamine Yamal ikut mengantarkan Spanyol menjuarai Piala Eropa 2024 dan dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik turnamen, hanya sehari setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-17.

 

Prestasi itu memang luar biasa. Bagi saya, hal yang lebih penting justru bagaimana ekosistem yang melahirkannya. Apalagi, Lamine Yamal berasal dari keluarga migran sederhana, ayahnya berdarah Maroko dan ibunya berasal dari Guinea Khatulistiwa. Berkat sistem pembinaan yang terbuka, profesional, dan menjunjung meritokrasi, seorang anak dari keluarga migran dapat tumbuh menjadi simbol kebanggaan bangsa Spanyol. Kulitnya yang gelap justru menambah keyakinan masyarakat Spanyol bahwa keragaman justru menjadi kekuatannya. Hal ini juga bisa dilihat dari fenomena saat munculnya sentimen berlatar rasial di sejumlah wilayah Eropa, Sentimen ini di Spanyol sama sekali tidak mendapatkan pendukung.

 

Ekosistem yang sportif, profesional, meritokratis, serta menjunjung asas kekeluargaan dan kebersamaan ternyata tidak hanya tumbuh dalam dunia sepak bola. Budaya yang sama juga dapat ditemukan di berbagai sektor ekonomi Spanyol, mulai dari perusahaan konstruksi, teknologi, pendidikan, hingga industri kreatif. Menariknya lagi, banyak perusahaan besar Spanyol tetap dimiliki oleh keluarga, koperasi, atau asosiasi karyawannya sendiri. Karena itu, ukuran keberhasilan perusahaan tidak semata-mata ditentukan oleh angka-angka ekonomi yang lazim digunakan oleh banyak negara kapitalis.

 

Karena itulah, melihat fenomena Lamine Yamal jangan berhenti hanya pada kekaguman atas kehebatannya di lapangan. Lamine Yamal sejatinya bukanlah ‘anak ajaib’ yang jatuh dari langit secara kebetulan. Ia adalah produk sah dari ekosistem yang sehat, profesional, dan meritokratis, sebuah pelajaran berharga yang patut dipelajari dan diterapkan di berbagai bidang kehidupan kita.

7 thoughts on “Lamine Yamal Bukan Anak Ajaib”

  1. Setuju pak dubes… intinya adalah kepemilikan masyarakat yg luas dan pengelolaan yg profesional.
    Terima kasih ulasannya , patut dijadikan tauladan, bgm meritokrasi bisa mengantarkan sebuah club dan negara menjadi sukses dan dikenal luas sec global.

  2. Sebuah pelajaran untuk kita semua untuk memperbaiki diri. Siapa yang bekerja dan bersungguh-sungguh dia akan berhasil.

  3. Alhamdulillah, ulasan yang merupakan pengetahuan bagi kita dan jadikan sebagai pembelajaran yang bermanfaat.
    Terima kasih Pak Dubes Bpk.Muhammad Najib

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *