Dari Pelopor Menjadi Konsumen Peradaban

Almarhum K.H. Zainuddin MZ pernah berseloroh bahwa teknologi membuat hidup menjadi mudah. Kalimat yang sederhana itu sesungguhnya menyimpan otokritik yang amat dalam. Hampir seluruh kemudahan, kenyamanan, dan keamanan yang kita nikmati hari ini—dari fasilitas medis, sarana transportasi, hingga komunikasi digital—lahir dari rahim peradaban teknologi.

 

Ironisnya, sebagian besar lompatan besar yang mengubah wajah peradaban modern justru lahir dari para ilmuwan, insinyur, dan inovator yang tidak dikenal karena kesalehan agamanya. Sebagian bahkan secara terbuka mengaku sekuler, agnostik, atau ateis. Di sinilah muncul sebuah ironi yang patut direnungkan. Mengapa begitu banyak manfaat yang dinikmati umat beragama justru dihasilkan oleh mereka yang tampaknya jauh dari kehidupan beragama? Apa yang sebenarnya terjadi?

 

Jangan-jangan oleh sebab kita terlalu lama memandang agama hanya sebagai jalan menuju keselamatan akhirat, sementara fungsi kekhalifahan di bumi semakin terlupakan. Bukankah Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia mengamati langit, bumi, gunung, laut, pergantian siang dan malam, serta seluruh tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Membaca alam sejatinya juga merupakan bagian dari membaca ayat-ayat Tuhan.

 

Padahal, jika kita memutar balik jarum sejarah beberapa abad ke belakang—khususnya saat peradaban Islam memuncak di bawah Dinasti Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Cordoba—keadaannya justru bertolak belakang. Kala itu, ilmuwan Muslim berdiri di barisan terdepan untuk mewarnai peradaban. Sains dan teknologi berkembang pesat bukan sekadar untuk kenyamanan hidup dan kemajuan materi, melainkan sebagai bagian dari ibadah itu sendiri: dari kalkulasi presisi arah kiblat hingga penentuan penanggalan awal Ramadan dan Hari Raya. Tokoh-tokoh seperti Al-Khawarizmi, Ibn Sina, Al-Biruni, dan Ibn al-Haytham membuktikan bahwa pencarian kebenaran empiris adalah bagian dari pengabdian kepada Tuhan.

 

Prestasi mereka menunjukkan bahwa keimanan bukan penghalang bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, keyakinan kepada Tuhan justru menjadi sumber inspirasi untuk terus mengamati, meneliti, menemukan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama manusia. Pada masa itu, bahasa Arab bukan hanya menjadi bahasa agama, tetapi juga bahasa filsafat, kedokteran, matematika, astronomi, sains dan teknologi.

 

Lalu kapan dan mengapa keadaan itu berubah? Mengapa umat yang dahulu menjadi pelopor ilmu pengetahuan kini lebih banyak hanya berperan sebagai konsumen dari mereka yang dinilai jauh dari agama ?

 

Harus disadari bahwa sains berkembang melalui budaya berpikir yang menghargai observasi, eksperimen, pembuktian, dan keberanian mengoreksi kesalahan. Hukum-hukum alam berlaku universal kapan pun dan bagi siapa pun. Gravitasi sejak dulu dan sampai sekarang tidak berubah, juga tidak membedakan apakah seorang peneliti beragama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Yahudi, ataupun tidak beragama. Alam hanya “menghargai” mereka yang bekerja dengan tekun, disiplin, jujur, dan menaati hukum-hukumnya.

 

Karena itu, kemajuan sains tidak bisa dicapai hanya dengan doa, semangat, atau kebanggaan terhadap kejayaan masa lalu. Ia memerlukan tradisi membaca, budaya meneliti, kebebasan berpikir, penghargaan terhadap prestasi, investasi yang besar dalam pendidikan, serta dukungan terhadap riset dan inovasi. Dengan kata lain, ekosistem yang mendukungnya harus dibangun. Tanpa itu semua, mustahil sebuah bangsa dapat menjadi pelopor ilmu pengetahuan.

 

Di sisi lain, sains yang berkembang tanpa iman atau tanpa nilai-nilai moral juga melahirkan ancaman. Kecerdasan buatan membantu menemukan obat-obatan yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit yang selama ini sulit disembuhkan, tetapi  teknologi yang sama juga dapat dijadikan senjata yang sangat mematikan, atau menghasilkan informasi palsu dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi pada dasarnya bersifat netral, sedangkan iman akan berfungsi sebagai kompas untuk memandu agar ia bergerak ke arah yang benar.

 

Di sinilah agama menemukan perannya. Agama tidak hadir untuk menggantikan laboratorium atau menyusun rumus-rumus fisika. Agama hadir untuk memberikan arah, nilai, dan tanggung jawab moral. Sains menjawab pertanyaan tentang apa yang dapat dilakukan manusia, sedangkan agama mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan manusia. Sains meningkatkan dan memperluas kemampuan, sementara agama membimbing penggunaan kemampuan tersebut agar membawa kemaslahatan.

 

Tantangan terbesar abad ke-21 bukanlah mempertentangkan agama dengan sains, melainkan mempertemukan keduanya dalam satu bangunan peradaban yang utuh. Dunia memerlukan ilmuwan yang unggul sekaligus berintegritas. Pada saat yang sama, dunia juga membutuhkan tokoh agama yang menghargai ilmu pengetahuan, berpikiran terbuka, dan mampu menjadikan agama sebagai sumber inspirasi lahirnya inovasi.

 

Sejarah telah membuktikan bahwa ketika iman melahirkan tradisi keilmuan, umat beragama mampu memimpin peradaban. Sebaliknya, ketika agama berhenti menginspirasi lahirnya ilmu pengetahuan, umat hanya akan menjadi penikmat hasil kerja orang lain. Pilihan itu sesungguhnya masih terbuka hingga hari ini: apakah kita ingin kembali menjadi pencipta peradaban, atau terus puas menjadi konsumennya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *